Sabtu, 19 Desember 2009

Ubud Bali

Disebuah desa di Ubud, bali, terdapat dua buah sungai yang bermuara di satu titik. Yang satunya bernama sungai Wadon (yang artinya perempuan) dan satunya lagi bernama sungai Lanang (yang artinya laki-laki). Satu sungai hanya dipisahkan oleh satu satu bukit yangb diberi nama Tjampuhan. Titik itu dipercaya sebagai tempat orang suci nenek moyang orang-orang bali, Maharesi Markandia yang sakti, berhasil menaklukkan dedemit yang menguasai Bali, maka dititik itu dibangun sebuah Pura yang sangat suci: Pura Gunung Lebeh. Konon di desa dipinggir-pinggir itu mengalirkan darah-darah seni orang Bali. Desa Penestanan, Pengosekan, dan Sukawati yang terkenal sebagai desa lukis, Celuk (desa perak), Batu Bulan (desa stone carving), dan sebagainya. Singkatnya Ubud dikenal sebagai daerah yang kaya dengan seni.

Berkat kesenian yang sangat istimewa, dan alam pergunungan yang dikelilingin persawahan yang indah , ubud dikenal sebagai daerah kunjungngan wisata yang sangat indah, Ubud di kenal segai daerah kunjungan wisata yang sangat digemari dan bernilai ekonomis sangat tinggi. Di sepanjang jalan di Ubud, anda akan bertemu dengan para selebriti dunia, guru-guru besar daari universitas yang terkenal, serta usahawan mancanegara. Mereka mengayuh sepeda mengunjungin museum yang satu dan museum-museum yang lainnya, memborong lukisan dan karya-karya seni. Sebagian orang yang tidak mengerti akan mengira bahwa Ubud adalah warisan alam yang terjadi begitu saja, mungkin ini agak keliru.

Ubud tidak akan pernah menjadi daerah kunjungan wisata kalau tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh melakukan change. Change maker itu bernama Tjokorda Gde Agung Sukawati, raja Ubud. Semasa hidupnya, Tjokorda sangat memerhatikan kesenian, ia berfikir rakyatnya tidak bias hidup seperti ini terus-menerus, maka iapun segera mencari cara agar rakyatnya bias membuat kerya seni yang lebih indah dan lebih bernilai. Maka setiap kali ia mendengar ada pelukis hebat yang dating ke Indonesia, ia ajak ke Ubud, ia memburu nama-nama terkenal.Walter spies di jemputnya di pelabuhan, bahkan diberikan rumah di Bali, syaratnya Cuma satu: tolong ajarkan anak-anak Ubud melukis.

Sejak saat itu yang dating bukan hanya Walter Spies, sebut saja Rudolf Bonnet, Arie Schmidt, dan Hanz Snell. Mereka adalah pelukis-pelukis besar yang memberikan pengaruh terhadap cara melukis di Ubud, bahkan juga Antonio blanco yang jatuh cinta dengan gadis Bali dan menetap disana sampai mati. Konon sebelum kedatangan mereka, lukisan seniman Ubud terbatas hanya pada teman-teman yang lazim ditemui pada epos Mahabrata dan Ramayana. Sekarang anda bias melihat karya-krya yang sangat ekpresif dengan multitema.

Menurut putra almarhum, Tjokorda Gde Raka Sukawati, yang sekarang menjadi dosen di Universitas Udayana dean pengusaha resort di Ubud, ayahnya sendiri pergi menyambut para seniman itu dan menawarkan tempat untuk tinggal di Ubud, bahkan pelukis besar Affandi termasuk yang pernah diburunya. Gagasan sederhana itu sekarang sangat dinikmati orang-orang Bali, turis tidak lagi takut mendatangin daerah yang dulu agak tertutupdan berhutan lebat ini. Di tjampuhan rumah bekas Walter Spies, sampai sekarang masih bias dilihat jejak kedatangan WalterSpies, rumah itu ada di tengah-tengah kawasan Hotel tjampuhan, tak jauh dari situ, Tjokorda Gde sukawati membangun sebuah resort butik yang juga sangat digemari turis asing: pitamah. Pelanggan tetapnya antara lain adalah David copperfield dan cindy Crawford. Di desa kedewataan, Tjokorda membangun sebuah patung yang sangat besar berupa Dewa-Dewi, daerah ini memang dikenal sebagai daerah yang kerap didatangin bidadari sehingga diberi nama kedewatan. Disitu ada sebuah resort butik yang sangat indah, yang dibangun oleh ratusan seniman yang diberi nama Royal Pitama.